Minggu, 23 Januari 2011

'belajar' dari proses belajar

Beberapa hari belakangan euforia masalah nilai akhir semester sangat heboh di kampus. Mulai dari status update di facebook, twitter, dan mungkin di BBM juga heboh soal nilai. Ada yang gembira, ada yang bersedih. Itulah liku-liku nasib sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki tuntutan untuk terus belajar guna memperoleh kesuksesan di masa depan.

Kebanyakan mahasiswapun berpikir bahwa nilai yang bagus, IP (Indeks Prestasi) yang bagus adalah jaminan kebahagiaan yang menjanjikan. Kalau mendapat nilai bagus itu artinya kelak mereka akan menjadi orang yang sukses.

Pun demikian dengan yang menangisi nilai yang diperoleh. Mereka yang mendapat nilai kurang baik hanya bisa gigit jari, menyesal, dan menangisi semua kesempatan belajar yang ada. Memang kata menyesal selalu muncul di akhir cerita, memang begitu hukumnya, kalau kata menyesal itu muncul di awal itu namanya harapan.

Kebanyakan dari mahasiswa akan menyalahkan dosen yang memberi nilai kurang memuaskan. Kecenderungan memberikan stereotype, penilaian negatif tanpa mau ikut introspeksi diri.

Tetapi apakah dengan nilai yang kurang memuaskan lalu mereka kecewa begitu saja? Rasanya sayang sekali kalau hanya menyesal dan menangis. Kalau kita mau sedikit merundukkan hati, maka Allah Yaa Lathiif akan melembutkan hati kita dan kita akan berpikir jernih, mengapa kita bisa mengalami kegagalan ataupun kesuksesan dalam belajar?

Cerita yang saya alami beberapa waktu belakangan membuat hati saya tergugah untuk memaknai arti dari “euforia nilai”. Sebenarnya apa sih yang dicari dari kuliah? Kuliah pada hakekatnya adalah bentuk pengabdian kepada Yang Maha Cerdas, Ar-Rosyiid. Jadi kenapa kalau nilai kurang memuaskan kita malah menganggap diri kita yang bodoh ataupun dosen yang terlalu pelit memberikan nilai?
Saya jadi ingat pernah mendapatkan sebuah pesan singkat yang berbunyi : “Kalau apa yang kita inginkan belum dipenuhi oleh Allah, maka coba lihat shalat kita. Sudahkah kita menjalankannya tepat waktu?”. Mungkin saya bisa menganalogikan pesan itu dengan cerita ini. Ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai yang kurang memuaskan, cobalah lihat usaha yang mereka lakukan. Sudahkah mereka belajar dengan giat, sudahkah mereka benar-benar memahami materi yang dujikan, atau sudahkah mereka mau mengakui kekuatan dan kelemahan diri dalam belajar. Sudahkah mereka menghargai prosesnya?

Jika kita menginginkan rezeki yang lebih maka Allah menganjurkan kita untuk melakukan shalat Dhuha dan melakukan shalat malam untuk lebih mendekatkan diri padaNYA. Jika kita menginginkan nilai dan IP yang baik sudahkah kita belajar dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita benar-benar meminta pertolongan kepadaNYA?

Jangan sampai kita menutup hati dengan mengikuti emosi, ketika melihat kenyataan mendapat nilai yang kurang memuaskan alangkah bijaknya kita kembalikan kepada diri kita. Introspeksi diri untuk menilai usaha yang kita lakukan dan belajar menghargai proses dibalik pencapaian suatu hasil. Jika kita mampu menghargai prosesnya maka kita akan mampu merasakan kebahagiaan. Sesungguhnya kebahagiaan bukan berada di angka A, B, C, atau D sebagai pencapaian nilai tetapi kebahagiaan berada di balik proses kejujuran (tidak mencontek) dan penuh tanggungjawab dalam berusaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar